
TOKOBERITA.COM – Menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026, pemerintah Amerika Serikat dikabarkan tengah menyiapkan kebijakan baru yang berpotensi memicu kontroversi di tingkat global. Kebijakan tersebut berkaitan dengan rencana pemeriksaan riwayat media sosial wisatawan asing yang hendak masuk ke wilayah AS selama periode turnamen berlangsung.
Turnamen sepak bola terbesar dunia itu akan digelar secara bersama-sama di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Jutaan penggemar sepak bola dari berbagai negara diperkirakan akan datang untuk menyaksikan pertandingan secara langsung.
Namun, antusiasme tersebut dibayangi oleh kebijakan ketat imigrasi yang disebut-sebut merupakan bagian dari agenda keamanan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pemerintahan Trump dilaporkan ingin memperketat proses penyaringan terhadap seluruh warga negara asing yang masuk ke AS.
Berdasarkan laporan yang beredar, wisatawan asing akan diwajibkan menyerahkan riwayat aktivitas media sosial mereka selama lima tahun terakhir. Data tersebut akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam proses pemeriksaan imigrasi.
Kebijakan ini tercantum dalam dokumen baru Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat atau Department of Homeland Security (DHS). Dokumen tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan pemeriksaan maksimal terhadap pengunjung asing.
Langkah ini disebut sebagai upaya pencegahan terhadap potensi ancaman keamanan selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Pemerintah AS menilai ajang berskala global tersebut berisiko tinggi menjadi sasaran gangguan keamanan.
Riwayat media sosial yang dimaksud mencakup berbagai platform digital, termasuk unggahan, komentar, serta interaksi daring lainnya. Pemeriksaan akan difokuskan pada konten yang dinilai berpotensi mengancam keamanan nasional.
Pemerintah AS berargumen bahwa kebijakan ini diperlukan untuk mengidentifikasi individu yang memiliki pandangan ekstrem atau rekam jejak yang dianggap berbahaya. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat meminimalkan risiko sebelum pengunjung memasuki wilayah negara.
Meski demikian, rencana ini menuai kritik dari sejumlah kelompok pemerhati hak asasi manusia. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi melanggar privasi dan kebebasan berekspresi.
Para kritikus juga menilai pemeriksaan media sosial dapat membuka ruang penafsiran subjektif oleh petugas imigrasi. Hal ini dikhawatirkan dapat berdampak pada penolakan masuk tanpa alasan yang jelas.
Selain itu, kebijakan ini dinilai dapat memengaruhi minat wisatawan asing untuk datang ke Amerika Serikat selama Piala Dunia 2026. Kekhawatiran atas privasi disebut bisa membuat sebagian penggemar memilih menonton pertandingan di negara tuan rumah lain.
Pemerintah AS sendiri menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan diterapkan secara selektif dan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. DHS menyatakan data yang dikumpulkan akan digunakan semata-mata untuk kepentingan keamanan.
Pihak berwenang juga menyebutkan bahwa kebijakan ini bukan hal baru, karena pemeriksaan media sosial sebelumnya telah diterapkan dalam beberapa kategori visa. Namun, cakupan pemeriksaan kali ini disebut akan lebih luas.
Belum dijelaskan secara rinci bagaimana mekanisme teknis pemeriksaan akan dilakukan dan sejauh mana data media sosial akan dianalisis oleh otoritas imigrasi.
Di sisi lain, FIFA sebagai penyelenggara Piala Dunia belum memberikan tanggapan resmi terkait rencana kebijakan tersebut. FIFA sebelumnya menekankan pentingnya kemudahan akses bagi penggemar sepak bola dari seluruh dunia.
Kanada dan Meksiko, sebagai negara tuan rumah bersama, juga belum menyatakan apakah akan menerapkan kebijakan serupa atau tidak.
Pengamat menilai kebijakan ini dapat memunculkan tantangan diplomatik, terutama jika berdampak pada warga negara dari negara-negara tertentu.
Meski masih berupa rencana, kebijakan pemeriksaan media sosial ini diperkirakan akan menjadi salah satu isu utama menjelang Piala Dunia 2026.
Pemerintah AS diperkirakan akan terus menyempurnakan aturan tersebut seiring mendekatnya jadwal turnamen.
Dengan jutaan pengunjung diprediksi hadir, keseimbangan antara keamanan dan kenyamanan wisatawan menjadi tantangan besar bagi negara tuan rumah.
Piala Dunia 2026 pun tidak hanya menjadi ajang olahraga global, tetapi juga sorotan terhadap kebijakan imigrasi dan keamanan Amerika Serikat di mata dunia.
