
KOTA MEDAN – Ancaman banjir masih menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kota Medan pada tahun 2026. Setelah dua tahun berturut-turut mengalami banjir pada 2024 dan 2025, kewaspadaan terus ditingkatkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa permasalahan banjir belum sepenuhnya teratasi. Faktor cuaca ekstrem dan kondisi drainase menjadi penyebab utama. Oleh karena itu, langkah antisipasi harus dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah tidak ingin kejadian serupa terulang kembali.
Peringatan tersebut disampaikan oleh Wakil Wali Kota Medan, Zakiyuddin Harahap. Ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh elemen masyarakat. Pernyataan ini disampaikan saat memimpin apel peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026. Momentum ini dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran akan potensi bencana. Pemerintah mengajak semua pihak untuk tidak lengah. Kesiapan menjadi kunci dalam menghadapi bencana.
Kegiatan apel tersebut berlangsung di Taman Avros pada Minggu, 26 April 2026. Lokasi ini menjadi titik kumpul berbagai unsur terkait. Mulai dari aparat pemerintah hingga relawan kebencanaan turut hadir. Apel ini tidak hanya bersifat seremonial. Tetapi juga menjadi ajang konsolidasi kesiapan. Semua pihak diingatkan akan peran masing-masing.
Dalam amanatnya, Zakiyuddin menegaskan bahwa banjir merupakan ancaman nyata. Pengalaman dua tahun sebelumnya harus menjadi pelajaran berharga. Evaluasi terhadap penanganan sebelumnya terus dilakukan. Pemerintah berupaya memperbaiki sistem yang masih lemah. Dengan demikian, dampak banjir dapat diminimalisir. Upaya ini membutuhkan kerja sama semua pihak.
Salah satu fokus utama adalah perbaikan sistem drainase kota. Banyak saluran air yang tidak berfungsi optimal. Hal ini disebabkan oleh sedimentasi dan sampah. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya normalisasi. Namun, pekerjaan ini membutuhkan waktu dan konsistensi. Peran masyarakat juga sangat penting dalam menjaga kebersihan. Tanpa dukungan warga, upaya ini tidak akan maksimal.
Selain drainase, kondisi sungai juga menjadi perhatian. Pendangkalan sungai dapat memperparah risiko banjir. Oleh karena itu, normalisasi sungai terus dilakukan. Pemerintah bekerja sama dengan instansi terkait. Tujuannya adalah meningkatkan kapasitas tampung air. Dengan demikian, risiko meluapnya air dapat dikurangi. Ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Zakiyuddin juga menyoroti pentingnya edukasi kebencanaan. Masyarakat harus memahami langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi banjir. Pengetahuan ini dapat menyelamatkan banyak nyawa. Oleh karena itu, sosialisasi terus digencarkan. Sekolah dan komunitas menjadi sasaran utama. Edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan.
Dalam kesempatan tersebut, peran relawan juga mendapat apresiasi. Relawan menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana. Mereka membantu evakuasi dan distribusi bantuan. Tanpa relawan, penanganan bencana akan lebih sulit. Oleh karena itu, pemerintah terus mendukung keberadaan mereka. Pelatihan dan pembekalan terus dilakukan.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat koordinasi antar instansi. Penanganan bencana tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Diperlukan sinergi antara berbagai pihak. Mulai dari BPBD, TNI, Polri, hingga organisasi masyarakat. Koordinasi yang baik akan mempercepat respons. Hal ini sangat penting dalam situasi darurat.
Teknologi juga mulai dimanfaatkan dalam mitigasi bencana. Sistem peringatan dini menjadi salah satu alat penting. Dengan teknologi ini, masyarakat dapat memperoleh informasi lebih cepat. Hal ini memungkinkan evakuasi dilakukan lebih awal. Pemerintah terus mengembangkan sistem ini. Tujuannya adalah mengurangi risiko korban.
Zakiyuddin juga mengingatkan pentingnya menjaga lingkungan. Perilaku membuang sampah sembarangan harus dihentikan. Sampah yang menumpuk dapat menyumbat saluran air. Hal ini menjadi salah satu penyebab banjir. Oleh karena itu, kesadaran lingkungan harus ditingkatkan. Masyarakat memiliki peran besar dalam hal ini.
Pemerintah juga menyiapkan langkah darurat jika banjir terjadi. Posko-posko bantuan akan didirikan di titik strategis. Logistik seperti makanan dan obat-obatan telah dipersiapkan. Tim evakuasi juga disiagakan. Semua ini dilakukan untuk memastikan respon cepat. Keselamatan warga menjadi prioritas utama.
Dalam jangka panjang, perencanaan tata kota juga akan diperbaiki. Pembangunan harus memperhatikan aspek lingkungan. Kawasan resapan air harus dijaga. Alih fungsi lahan harus dikendalikan. Hal ini penting untuk mengurangi risiko banjir. Pembangunan yang berkelanjutan menjadi solusi utama.
Zakiyuddin berharap masyarakat tidak hanya bergantung pada pemerintah. Kesiapsiagaan harus dimulai dari diri sendiri. Setiap keluarga perlu memiliki rencana darurat. Hal ini akan membantu saat terjadi bencana. Kesadaran individu sangat penting. Dengan kesiapan bersama, dampak bencana dapat ditekan.
Secara keseluruhan, ancaman banjir di Medan masih menjadi tantangan besar. Namun, dengan kesiapsiagaan yang baik, risiko dapat diminimalisir. Pemerintah dan masyarakat harus bekerja sama. Peringatan ini menjadi pengingat bagi semua pihak. Bencana bisa datang kapan saja. Oleh karena itu, kesiapan harus selalu dijaga.
