
TOKOBERITA.COM – Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara mencatat peningkatan kasus penyakit kulit di sejumlah lokasi pengungsian pascabanjir. Penyakit kulit menjadi keluhan kesehatan paling banyak dialami warga terdampak bencana. Kondisi ini terpantau hingga tanggal 22 Desember 2025. Lingkungan yang lembap dan sanitasi terbatas menjadi faktor pemicu utama. Pemerintah daerah terus melakukan pemantauan kesehatan pengungsi.
Sekretaris Dinas Kesehatan Sumut, Hamid Rijal, menyampaikan data tersebut melalui Tenaga Sanitasi Lingkungan Ahli Muda, Dedi Lubis. Berdasarkan laporan yang masuk, jumlah kasus penyakit kulit mencapai 15.687 orang. Angka tersebut menunjukkan kondisi kesehatan pengungsi masih memprihatinkan. Kasus tersebar di berbagai wilayah terdampak banjir. Penanganan kesehatan darurat terus dilakukan secara bertahap.
Kabupaten Langkat menjadi wilayah dengan jumlah kasus terbanyak. Selain Langkat, Tapanuli Tengah juga mencatat angka signifikan. Daerah lain yang terdampak cukup parah adalah Deli Serdang. Kabupaten Batubara turut masuk dalam daftar wilayah dengan kasus tinggi. Kota Tebing Tinggi dan Kabupaten Mandailing Natal juga melaporkan kondisi serupa.
Penyakit kulit yang dialami pengungsi umumnya berupa gatal-gatal. Beberapa warga juga mengalami infeksi akibat air kotor. Kontak langsung dengan air banjir menjadi penyebab utama. Banyak pengungsi terpaksa beraktivitas di lingkungan yang tidak higienis. Hal ini memperburuk kondisi kesehatan kulit mereka.
Keterbatasan air bersih di lokasi pengungsian menjadi persoalan serius. Tidak semua pengungsian memiliki fasilitas mandi dan cuci yang memadai. Pengungsi harus berbagi fasilitas dalam jumlah besar. Kondisi tersebut memicu penyebaran penyakit dengan cepat. Dinas Kesehatan menilai perbaikan sanitasi sangat mendesak.
Selain faktor sanitasi, cuaca lembap turut memperparah kondisi. Banjir yang belum sepenuhnya surut membuat lingkungan tetap basah. Pakaian dan alas tidur pengungsi sering kali lembap. Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri dan jamur. Akibatnya, penyakit kulit mudah berkembang.
Dinkes Sumut telah mengerahkan tenaga kesehatan ke lokasi pengungsian. Tim medis melakukan pemeriksaan rutin kepada pengungsi. Obat-obatan untuk penyakit kulit disalurkan secara gratis. Edukasi tentang kebersihan diri juga diberikan kepada warga. Langkah ini diharapkan dapat menekan angka kasus baru.
Tenaga sanitasi lingkungan juga diturunkan untuk memantau kondisi pengungsian. Mereka melakukan penilaian terhadap sumber air dan fasilitas sanitasi. Upaya perbaikan dilakukan sesuai kemampuan di lapangan. Pembersihan area pengungsian terus diupayakan. Koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota terus diperkuat.
Dedi Lubis menyebut penyakit kulit sering dianggap sepele. Padahal jika tidak ditangani, dapat berkembang menjadi infeksi serius. Beberapa kasus memerlukan penanganan lanjutan di fasilitas kesehatan. Dinkes mengimbau warga segera melapor jika mengalami keluhan. Deteksi dini dinilai sangat penting.
Selain penyakit kulit, pengungsi juga mengalami keluhan lain. Penyakit saluran pernapasan dan diare turut ditemukan. Namun, jumlahnya masih lebih rendah dibanding penyakit kulit. Dinkes tetap melakukan pemantauan menyeluruh. Penanganan dilakukan secara terpadu.
Pemerintah provinsi berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan. Bantuan logistik kesehatan tambahan telah diajukan. Obat-obatan dan alat sanitasi menjadi prioritas. Pemerintah berharap dukungan pusat dapat mempercepat penanganan. Sinergi lintas sektor terus dilakukan.
Di beberapa lokasi, relawan kesehatan turut membantu penanganan. Mereka membantu tenaga medis dalam pelayanan dasar. Relawan juga berperan dalam edukasi kebersihan. Kehadiran relawan sangat membantu di tengah keterbatasan tenaga. Kolaborasi ini diapresiasi oleh pemerintah daerah.
Dinkes Sumut mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan pribadi. Pengungsi diminta rutin membersihkan tubuh jika memungkinkan. Penggunaan pakaian kering dan bersih sangat dianjurkan. Alas tidur juga perlu dijaga kebersihannya. Langkah sederhana ini dapat mencegah penyakit kulit.
Pemerintah daerah juga berupaya memperbaiki fasilitas pengungsian. Penyediaan air bersih terus ditingkatkan. Toilet darurat dan tempat cuci tangan ditambah. Upaya ini dilakukan sesuai kondisi lapangan. Kesehatan pengungsi menjadi prioritas utama.
Hamid Rijal menegaskan penanganan kesehatan tidak boleh terabaikan. Bencana tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga berdampak pada kesehatan. Pemerintah berkomitmen hadir bagi masyarakat terdampak. Setiap laporan akan ditindaklanjuti. Pelayanan kesehatan tetap berjalan meski dalam keterbatasan.
Masyarakat diimbau untuk tidak ragu mendatangi pos kesehatan. Pemeriksaan dan pengobatan diberikan tanpa biaya. Pengungsi juga diminta mengikuti arahan petugas. Kepatuhan terhadap imbauan kesehatan sangat penting. Hal ini demi kebaikan bersama.
Penanganan penyakit kulit diperkirakan masih akan berlanjut. Selama kondisi lingkungan belum sepenuhnya pulih, risiko tetap ada. Oleh karena itu, upaya pencegahan terus dilakukan. Pemerintah berharap kondisi segera membaik. Pemulihan pascabanjir menjadi fokus utama.
Dengan meningkatnya perhatian terhadap kesehatan pengungsi, diharapkan kasus penyakit kulit dapat ditekan. Pemerintah daerah terus meningkatkan respons kesehatan. Dukungan semua pihak sangat dibutuhkan. Masyarakat diminta tetap waspada. Kesehatan menjadi fondasi penting dalam pemulihan pascabencana.
