
MEDAN – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Medan, Ny. Airin Rico Waas, membagikan kisah upayanya membawa produk lokal usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya kain Ulos, menembus pasar nasional hingga internasional. Kisah tersebut disampaikannya dalam talkshow yang menjadi bagian dari Medan Fashion & Culture Festival (MFCF) 2026 di Atrium Sun Plaza, Jumat (16/10/2026). Talkshow itu dihadiri oleh pelaku UMKM, desainer lokal, pegiat budaya, dan pengunjung festival. Suasana acara berlangsung hangat dan interaktif dengan antusiasme peserta yang cukup tinggi. Kehadiran Airin di tengah para pelaku usaha kreatif menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pengembangan produk budaya daerah.
Dalam paparannya, Airin menyampaikan bahwa keberagaman etnis di Kota Medan merupakan kekayaan budaya yang terus didorong untuk dilestarikan. Menurutnya, perpaduan berbagai suku dan tradisi menjadi ciri khas yang membedakan Medan dari kota lain di Indonesia. Kekayaan tersebut dinilai menyimpan potensi besar apabila dikelola dengan baik dan dikemas secara kreatif. Ia menegaskan bahwa Dekranasda Kota Medan berkomitmen menjaga warisan budaya tersebut agar tetap hidup di tengah masyarakat. Komitmen itu diwujudkan melalui berbagai program pembinaan dan promosi bagi pelaku usaha berbasis budaya.
Airin menjelaskan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menyimpannya sebagai warisan. Menurutnya, budaya perlu dikembangkan melalui sentuhan modern, termasuk pada wastra atau kain tradisional daerah. Pengembangan tersebut dilakukan agar produk budaya dapat diterima oleh generasi muda dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas. Perpaduan antara nilai tradisi dan desain kekinian dinilai menjadi strategi penting dalam menjaga relevansi wastra nusantara. Ia berharap inovasi tersebut dapat membuat kain tradisional semakin digemari berbagai kalangan.
Dalam talkshow tersebut, Airin menegaskan bahwa Dekranasda Kota Medan memiliki tugas mempromosikan dan melestarikan budaya, termasuk Ulos. Tugas itu dijalankan dengan menggali potensi para pengrajin, pelaku UMKM, dan desainer lokal. Menurutnya, kolaborasi antara ketiga unsur tersebut menjadi kunci lahirnya karya yang berkualitas dan memiliki daya saing. Pengrajin berperan menjaga keaslian teknik, sedangkan desainer membantu menghadirkan tampilan yang sesuai dengan selera pasar. Sinergi itu diharapkan mampu menghasilkan produk yang membanggakan sekaligus berkelanjutan.
Airin kemudian berbagi pengalaman mengenai upaya membawa produk UMKM Medan menembus pasar yang lebih luas. Ia menuturkan bahwa langkah tersebut membutuhkan ketekunan, konsistensi, dan dukungan dari berbagai pihak. Promosi melalui pameran, festival, dan berbagai ajang budaya menjadi salah satu cara memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat. Menurutnya, kepercayaan pasar dibangun secara bertahap melalui kualitas produk dan cerita budaya yang menyertainya. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi pelaku UMKM lain untuk terus berkembang.
Kain Ulos menjadi salah satu produk yang mendapat perhatian khusus dalam upaya promosi tersebut. Ulos dinilai memiliki nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang kuat bagi masyarakat Batak. Airin menilai kain tersebut memiliki peluang besar untuk dikenal lebih luas, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Untuk itu, pengembangan desain dan pemanfaatan Ulos dalam busana modern terus didorong agar lebih fleksibel digunakan. Dengan demikian, Ulos tidak hanya hadir dalam acara adat, tetapi juga dapat dikenakan dalam keseharian.
Selain Ulos, Airin juga menyoroti pentingnya dukungan bagi pelaku UMKM dalam meningkatkan kualitas dan kemasan produk. Menurutnya, produk lokal harus mampu memenuhi standar pasar agar dapat bersaing, baik secara nasional maupun internasional. Pendampingan, pelatihan, dan akses promosi dinilai menjadi kebutuhan utama bagi para pelaku usaha. Dekranasda Kota Medan disebut terus berupaya menghadirkan program yang menjawab kebutuhan tersebut. Airin berharap pelaku UMKM semakin percaya diri memperkenalkan karyanya ke tingkat yang lebih tinggi.
Medan Fashion & Culture Festival 2026 dinilai menjadi wadah yang tepat untuk mempertemukan para pelaku industri kreatif dengan masyarakat luas. Festival tersebut menghadirkan beragam kegiatan yang memadukan unsur mode dan budaya khas daerah. Airin mengapresiasi penyelenggaraan acara itu karena memberi ruang bagi desainer dan pengrajin lokal untuk menampilkan karya terbaik mereka. Menurutnya, ajang seperti ini dapat memperkuat citra Kota Medan sebagai kota yang kaya budaya dan kreativitas. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan.
Para peserta talkshow tampak antusias mengikuti pemaparan yang disampaikan Airin. Sejumlah pelaku UMKM menyampaikan harapan agar dukungan terhadap produk lokal terus diperkuat pada masa mendatang. Mereka menilai pengalaman yang dibagikan dapat memberi gambaran nyata tentang langkah-langkah yang perlu ditempuh untuk menembus pasar yang lebih besar. Diskusi yang berlangsung juga membuka peluang kolaborasi antara pengrajin, desainer, dan pelaku usaha lainnya. Suasana tersebut mencerminkan semangat bersama untuk memajukan produk budaya Kota Medan.
Melalui kisah yang dibagikan tersebut, Airin berharap semakin banyak pihak yang tergerak mencintai dan menggunakan produk lokal, khususnya kain Ulos. Ia menegaskan bahwa Dekranasda Kota Medan akan terus mendampingi pengrajin, pelaku UMKM, dan desainer lokal dalam mengembangkan karya mereka. Dukungan dari pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan membawa produk budaya ke panggung yang lebih luas. Ke depan, produk UMKM Kota Medan diharapkan mampu dikenal di tingkat nasional hingga internasional tanpa meninggalkan jati diri budayanya. Upaya tersebut sekaligus menjadi wujud nyata pelestarian budaya melalui pemberdayaan ekonomi kreatif.
