
DELI SERDANG – Gubernur Sumatera Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, mengungkapkan bahwa dua siswa yang menjadi korban dugaan keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karo kini telah dirujuk ke rumah sakit di Jakarta untuk menjalani perawatan lanjutan. Keputusan tersebut diambil menyusul arahan langsung dari Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, yang meminta agar kedua siswa tersebut mendapatkan penanganan khusus. Permintaan penanganan khusus ini muncul setelah diketahui bahwa kondisi trauma psikologis yang dialami keduanya jauh lebih berat dibandingkan korban lain dalam kasus yang sama. Proses rujukan ini menjadi langkah lanjutan dari penanganan medis yang sebelumnya telah dilakukan oleh tim kesehatan di Sumatera Utara. Kebijakan ini menunjukkan perhatian serius pemerintah pusat terhadap dampak psikologis yang dialami anak-anak korban insiden tersebut.
Bobby menjelaskan bahwa secara medis, kondisi para siswa korban dugaan keracunan tersebut sebenarnya telah ditangani secara intensif oleh tim dokter di wilayah Sumatera Utara. Meski demikian, dua siswa yang teridentifikasi bernama Feby dan Agnes dinilai memerlukan penanganan lebih lanjut mengingat kondisi psikologis keduanya yang dianggap lebih berat. Penilaian tersebut didasarkan pada hasil pemeriksaan medis dan psikologis yang menunjukkan adanya perbedaan tingkat keparahan trauma dibandingkan siswa lainnya. Atas dasar itulah, keputusan untuk merujuk keduanya ke fasilitas kesehatan di Jakarta pun diambil sebagai langkah antisipatif. Langkah ini diharapkan dapat memberikan penanganan yang lebih optimal bagi proses pemulihan kedua siswa tersebut.
“Wakil Presiden menyampaikan agar ada penanganan langsung dan dimonitor. Ada dua anak yang indikasi medis dan traumanya lebih tinggi daripada teman-temannya, sehingga dibawa ke Jakarta,” kata Bobby saat memberikan keterangan. Pernyataan tersebut disampaikan Bobby usai melepas keberangkatan kedua siswa itu menuju Jakarta di Bandara Kuala Namu pada Sabtu, 12 September 2026. Momen pelepasan tersebut turut dihadiri oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses penanganan kasus dugaan keracunan MBG ini. Kehadiran Gubernur Bobby dalam momen tersebut menunjukkan bentuk perhatian langsung pemerintah daerah terhadap kondisi para korban. Proses keberangkatan berjalan lancar dengan pengawalan yang memadai demi kenyamanan kedua siswa selama perjalanan.
Bobby turut menambahkan bahwa tim dokter dari Sumatera Utara juga ikut mendampingi secara langsung proses perawatan kedua siswa tersebut selama berada di Jakarta. Pendampingan oleh tim medis daerah ini dimaksudkan untuk menjaga kesinambungan penanganan yang telah dilakukan sejak awal kasus mencuat. Kehadiran tim dokter asal Sumut diharapkan dapat mempermudah proses transfer informasi medis kepada tim kesehatan yang menangani di Jakarta. Kolaborasi lintas tim medis semacam ini dinilai penting agar tidak terjadi kesenjangan informasi dalam proses perawatan lanjutan. Dengan pendampingan tersebut, proses pemulihan kedua siswa diharapkan dapat berjalan lebih terkoordinasi dan komprehensif.
Lebih lanjut, Bobby menegaskan bahwa proses pemulihan para korban tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan fisik semata, melainkan juga mencakup kesehatan mental dan psikologis anak-anak yang terdampak. Pendekatan holistik ini dinilai penting mengingat dampak dari insiden dugaan keracunan tersebut tidak hanya berimbas pada kondisi fisik para siswa. Bobby menekankan bahwa pemulihan psikologis memerlukan perhatian yang sama besarnya dengan penanganan medis konvensional. Perhatian terhadap aspek mental ini menjadi bagian dari strategi penanganan komprehensif yang diterapkan sejak kasus tersebut pertama kali mencuat. Pendekatan semacam ini diharapkan dapat membantu para siswa pulih secara menyeluruh, baik dari sisi fisik maupun psikis.
Sehubungan dengan hal tersebut, Bobby turut meminta masyarakat dan pihak media untuk ikut mendukung proses pemulihan dengan tidak memberikan tekanan tambahan kepada para siswa korban. Permintaan ini disampaikan mengingat sorotan publik yang cukup besar terhadap kasus dugaan keracunan MBG di Kabupaten Karo tersebut. Bobby berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam merespons perkembangan kasus ini tanpa menambah beban psikologis bagi para korban. Dukungan dari berbagai pihak, termasuk media, dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pemulihan yang kondusif bagi anak-anak tersebut. Sikap bijak dari masyarakat luas diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan yang tengah dijalani para siswa.
Berdasarkan hasil pemeriksaan psikologis yang telah dilakukan, diketahui bahwa sebagian korban mengalami gangguan mental yang dipicu oleh komentar negatif serta tindakan perundungan di media sosial. Fenomena tersebut muncul setelah kasus dugaan keracunan MBG ini menjadi sorotan publik secara luas melalui berbagai platform digital. Gangguan mental yang dialami para siswa ini menjadi bukti nyata bahwa dampak dari sebuah insiden tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga dapat merambah ke aspek psikologis secara mendalam. Kondisi ini semakin diperparah dengan derasnya arus komentar dari warganet yang tidak semuanya bersifat mendukung. Temuan ini menjadi salah satu dasar penting bagi tim medis dalam merancang strategi penanganan psikologis yang tepat bagi para korban.
“Anak-anak ini perlu dipulihkan bukan hanya kesehatan medisnya, tetapi juga mental dan psikisnya. Ada yang terganggu karena komentar-komentar dan cyberbullying,” ujar Bobby menegaskan keprihatinannya. Pernyataan ini menggambarkan betapa seriusnya dampak perundungan digital terhadap kondisi psikologis anak-anak yang menjadi korban dalam kasus tersebut. Bobby menilai fenomena cyberbullying semacam ini perlu menjadi perhatian bersama, tidak hanya dalam konteks kasus ini saja. Ia berharap kasus ini dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat luas mengenai dampak negatif dari komentar yang tidak bertanggung jawab di dunia maya. Kesadaran kolektif akan pentingnya etika bermedia sosial dinilai perlu terus digaungkan pascakejadian ini.
Terkait langkah pemulihan lebih lanjut, Bobby mengungkapkan bahwa tim medis telah meminta para siswa korban untuk mengurangi aktivitas di media sosial selama menjalani masa pemulihan. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif agar para siswa tidak kembali terpapar komentar negatif yang dapat memperburuk kondisi psikologis mereka. Pembatasan aktivitas digital tersebut menjadi bagian dari rekomendasi medis yang disusun khusus untuk mendukung proses penyembuhan mental para korban. Bobby berharap langkah ini dapat memberikan ruang yang lebih tenang bagi para siswa untuk fokus menjalani proses pemulihan tanpa gangguan dari luar. Rekomendasi ini juga menjadi bagian dari strategi jangka pendek sebelum para siswa benar-benar pulih sepenuhnya.
Menutup keterangannya, Bobby kembali mengimbau agar publik dapat menahan diri dan tidak memberikan tekanan berlebihan kepada para siswa korban selama masa pemulihan berlangsung. “Demi penyembuhan anak-anak kita, jangan terlalu memberikan tekanan dari luar. Fokus kita adalah membantu mereka pulih,” katanya menegaskan harapannya. Bobby menekankan bahwa fokus utama seluruh pihak saat ini seharusnya diarahkan pada upaya membantu para siswa pulih secara optimal, baik fisik maupun mental. Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, tim medis, keluarga, dan masyarakat dapat terus terjalin demi kepentingan terbaik para korban. Dengan dukungan penuh dari berbagai pihak, diharapkan proses pemulihan kedua siswa di Jakarta dapat berjalan lancar hingga mereka benar-benar pulih sepenuhnya.
